Tuesday, May 31, 2016

Bima

"Indira, kamu mau ga aku kenalin sama temanku? Namanya Luhur Bima. Dia kerja di SMERU." Sebuah pesan whatsapp tiba-tiba masuk ke HP saya, pada medio Juli 2014. Pesan itu dari seorang sahabat perempuan saya, yang sedang beraksi sebagai mak comblang. Ya, waktu itu usia saya 29 tahun, dan masih melajang. Tawaran-tawaran perkenalan seperti itu sudah jamak saya terima, semenjak usia saya mencapai seperempat abad dan masih sendiri. Bagi saya, tawaran itu adalah bentuk perhatian, entah dari teman atau keluarga, yang pasti selalu saya iyakan. Begitu juga dengan tawaran terakhir ini. 

Sebetulnya, waktu itu saya sedang tidak terpikir untuk menjalani relasi serius. Saya sedang ingin berfokus menata hidup saya, terutama setelah saya mengalami badai hidup yang signifikan dengan seseorang di masa lalu saya. Hal yg terpikir di benak saya waktu itu hanyalah ingin berteman dan memperluas relasi. Di samping itu saya juga ingin belajar dari teman baru itu, mengingat saya diberi tahu bahwa ia menghabiskan hampir 7 tahun untuk belajar di Eropa. Sebuah kesempatan yang hingga kini masih saya perjuangkan. 

Sebelum bertemu dengan Bima, ada banyak praduga2 yang muncul di benak saya. Praduga yang muncul karena minimnya informasi mengenai dirinya. Sempat saya mencoba untuk melacak di dunia maya, tapi sayangnya hasilnya pun nihil. Nampaknya, kemampuan saya dalam mengkepo orang memang perlu ditingkatkan 😝😝 

Di benak saya waktu itu, saya akan bertemu dengan seorang geolog yang sedang melakukan penelitian di Gunung Semeru. Sempat pula terpikir bahwa saya akan bertemu dengan seorang lelaki yang arogan dengan gaya hidup yang hedon. Diam-diam terbersit rasa minder di hati saya. Siapalah saya ini.. Ah rupanya inferior kompleks saya masih juga berulah disaat-saat seperti ini. 

Pada akhirnya, di bulan Agustus 2014, dengan perantaraan sahabat saya itu, kami pun bertemu untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Sebuah kota yang rupanya pernah menjadi bagian dari masa lalu kami dan menempati tempat tersendiri di hati. Setelah saya bertemu dengannya, baru saya sadari bahwa praduga saya sungguh kelewatan salahnya alias salah total! Lelaki yang saya temui malam itu adalah lelaki yang tidak banyak bicara. Alih-alih berbicara tentang kehebatan dan pengalaman dirinya, Bima justru lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Hingga akhirnya mengalirlah diskusi yang nyaman di antara kami. Saat itu baru saya sadari, betapa rendah hatinya lelaki satu ini. Suatu hal yang menurut saya langka ditemui, mengingat ia punya kapasitas dan potensi yang bisa jadi modal untuk menyombongkan diri. 

Obrolan yang nyaman yang saya temui dalam perjumpaan pertama, akhirnya berlanjut di udara. Bersyukur atas kehadiran whatssapp dan skype, yang membuat jarak antara Depok dan Yogya menjadi secepat kilat cahaya. Saya tidak bisa membayangkan kalau kami tinggal di abad 19. Mungkin, merpati akan menjadi dewa penolong kami. 

Di udara, kami banyak berbicara satu dan lainnya. Meski baru sekali bertemu, rupanya kami bisa sangat "nyambung" ketika ngobrol. Range topik kami sangat luas dan dalam, mulai dari yang sepele seperti tentang makanan sampai yang serius seperti tentang hidup. Dan saya, sangat menikmatinya. Hal yang sama saya temui saat akhirnya kami berjumpa lagi. Kali ini ditambah dengan kesenangan baru, karena ketika bertemu berarti kami bisa berpetualang bersama. Makan, jalan-jalan, ngobrol, merenung, dan tertawa sepuasnya. Saat itu, saya sadari bahwa jarak membuat setiap pertemuan menjadi berarti. Jarak adalah jeda untuk bisa membuat manusia menghargai apa arti bersama. 

Dari berbagai obrolan kami, saya menjadi semakin mengenal Bima. Kesan tentang sosok lelaki yang rendah hati tak pernah pudar di mata saya, bahkan berpendar. Kali ini ditambah dengan kesadaran bahwa ia adalah sosok yang sederhana. Bima tak pernah risau dengan apa yang ia makan, kenakan, dan gunakan. Kemana-mana cukup hanya dengan celana pendek, T-Shirt, dan sandal. Biasanya saya bingung kalau ada undangan resmi seperti pernikahan, karena berarti itu PR besar untuk kami mencari baju "bagus" untuknya. 😊 Bima kemana-mana selalu menggunakan kaki atau kendaraan umum. Alasan dia agar efisien dan menjaga kesehatan. Tapi, di mata saya, ada alasan yang lebih dalam dari itu. Sederhana memang menjadi tujuan sekaligus gaya hidupnya. Pernah suatu ketika, saya dikejutkan dengan ajakan dia naik bus umum dari Klaten, rumah Eyangnya, menuju Solo, rumah Eyang saya. Jangan bayangkan bus umum seperti TransJakarta. Bus yang ini adalah bus non ac yang di dalamnya pedagang dan pengamen masuk silih berganti. Jujur, saya paling ogah kalau disuruh berpanas2an dan berdesak-desakan di dalam bus. Kalau ada alternatif transportasi yang lebih nyaman, tentu saya akan pilih yg lebih nyaman. Dan, akhirnya kami menaiki bus itu, berdesak-desakan dengan penumpang lain. Ada penumpang yang membawa anak kecil yang rewel sepanjang jalan. Ada penumpang, yang sepertinya pedagang, membawa banyak sekali dagangan. Ada pedagang makanan yang harus padai mencari celah di antara penumpang yang berdiri, untuk bisa menjajakan makanannya. Kami semua bercampur baur di situ, dengan aroma yang tentu saja beraneka rupa. Dan kami semua cukup membayar Rp 6.000.00 untuk sampai di tujuan. Saat itu, saya sempat bertanya kepada Bima, mengapa kami harus naik bus ini dan jawaban dia sungguh mengena di hati, "supaya kita tahu dan tetap mengingat bagaimana perjuangan orang-orang kebanyakan." Sebuah jawaban yang membuat saya malu sekaligus terharu. Air mata saya tumpah sepanjang jalan dari Klaten ke Solo. Air mata itu adalah air mata syukur, karena saya bisa memaknai hidup bersamanya. 

Ya, sepanjang perjalanan relasi kami, Bima memang mengajarkan banyak hal kepada saya. Pengalaman naik bus umum hanyalah sedikit dari pemaknaan hidup yang saya dapat. Bima juga menjadi penyeimbang bagi diri saya. Sosoknya yang "lepas bebas" menjadi ekuilibrium bagi saya yang pencemas dan mudah terikat. Bersamanya, saya belajar menghargai dan memaknai hidup. Bersamanya, saya menjadi semakin berani untuk maju dan berjuang. Dengannya, saya semakin berani untuk menjadi diri sendiri dan berbahagia. Hal-hal itulah yang membuat saya selalu bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kami. 

Dan hari ini, adalah hari tepat dua bulan sebelum pernikahan saya dan Bima. Jarak terbentang jauh di antara kami, berkali-kali lipat daripada jarak Depok dan Yogyakarta. Hanya doa yang bisa saya kirimkan untuknya. Semoga Tuhan mengaruniaimu kesehatan dan menjagamu senantiasa. Sampai tiba kami bertemu nanti di Praha dan akhirnya Yogyakarta, untuk kami memohon restu-Nya, saling menjaga, belajar, dan bertumbuh bersama, sepanjang hayat usia kita. 

Bersama Tuhan, ada kepastian. Semoga Tuhan berkenan menemani perjuangan dan niat baik kami. 

Depok, 31 Mei 2016


Sunday, August 19, 2012

Berhenti sejenak...

Beberapa waktu belakangan ini saya mengalami badai emosi yang signifikan. Mungkin orang banyak bilang saya sedang galau, tapi saya lebih suka kalau menamainya dengan moodswing. Ya, mood saya yang sudah dari sejak lahir hobi bermain ayunan, menjadi semakin keras ayunannya... Saya menyadari bahwa badai emosi itu dipicu oleh sebuah hal, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sesuatu bernama maharaja thesis.

Ya, thesis, yang selama hampir satu semster ini begitu merajai dan begitu lekat dengan saya. Sebetulnya saya punya pilihan untuk tidak terlalu lekat dengannya, tapi campuran antara rasa penasaran, keinginan untuk menakhlukkan, dan deadline dari kampus mendorong saya untuk semakin dekat dengannya. Akhirnya, saya memang sungguh-sungguh dekat dengan si maharaja itu, baik hati maupun pikiran. Sampai-sampai logika mebjadi begitu kuat, dan mengabaikan jeritan hati yang sebetulnya ingin meminta jeda untuk berhenti. Selama enam bulan, sebenarnya seringkali si hati mengiba-iba untuk disekolahkan, diberi ruang untuk berekspresi, namun sering dihalangi oleh logika yang sellau punya segudang alasan untuk memaksa saya berintim ria dengan si maharaja. Asal tahu saja, sejak berkutat dengan thesis, saya jaraaaang sekali melakukan hal-hal yang saya sukai; main dengan anak-anak di Pingit bisa dihitung dengan jari, menyanyi hanya di kamar mandi, menggambar tidak pernah, pegang biola, sama sekali tidak ingat, apalagi menulis di blog ini. Ya, banyak hal yang menyenangkan di luar thesis saya tinggalkan.. Alhasil, saya pun kolaps, secara emosional... menjadi jenuh dan sangat sensitif, bahkan oleh hal-hal kecil. Tentu saja, itu menyiksa saya...

Akhirnya, saat libur lebaran tiba, saya putuskan untuk berhenti sejenakl dari kelekatan saya, mengalahkan logika, dan lebih mengikuti kata hati. Ya, saya putuskan untuk berlibur, keluar dari rutinitas sehari-hari, dan meninggalkan si maharaja barang sejenak. Sebenarnya, itu juga bukan hal yang mudah. Saat memutuskan untuk berlibur, saya masih dihantui oleh pikiran menganalisis data penelitian dan membantu Ibu menyiapkan acara lebaran. Plus rasa bersalah karena akan meninggalkan.  Namun, saya membulatkan tekad untuk berlibur, demi pulihny kondisi mental, daripada nanti semakin memburuk. 



Jumat pagi, saya naiki motor saya ke stasiun Lempuyangan, dan buru-buru membeli tiket kereta prambanan ekspres tujuan solo. Ya, ke kota itulah saya ingin berlibur. Hari itu, saya baru menyadari bahwa sudah 7 bulan saya tidak berkunjung ke rumah Eyang. Waktu yang sangat lama untuk saya, karena biasanya sebulan sekali saya pasti kesana.. Waktu dua hari satu malam sungguh saya manfaatkan dengan sebaik mungkin, sungguh-sungguh saya nikmati untuk diri saya sendiri, dan untuk sementara saya ucapkan selamat tinggal thesis. Saya sungguh menikmati bisa wisata kuliner di warung makan legendaris ( sampai-sampai tante saya yang melihat cara saya makan bilang kalau saya terlihat seperti orang yang tidak pernah makan, hehehe), bisa ngobrol dengan keluarga di rumah Eyang, bisa nonton serial CSI berjam-jam, bisa bantu jaga warung, dan bisa tidur berjam-jam tentu saja. Waaah.........luar biasa nikmatnya!!! Jangan ditanyaaa!!!! Sungguh saya syukuri pengalaman selama dua hari satu malam itu....

Dalam perjalanan pulang ke jogja, di atas kereta yang lumayan kosong tanpa penumpang, saya pun merenung.  Buat saya, tugas dan tanggung jawab, ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi bisa sangat menggoda dan menantang karena mempertajam kompetensi dan kapasitas diri, namun disisi lain, tanpa diimbangi oleh kesadaran dan pengendalian diri untuk menjaga diri agar tetap jernih, dapat berubah menjadi panah beracun yang menggerogoti diri. Hal yang lain, saya semakin yakin bahwa sejatinya jiwa saya begitu dinamis dan bebas, tidak tahan jika berada dalam situasi yang monoton. Saya sadari pula bahwa sejatinya rasa dan logika bisa bekerja sama, saling mengingatkan dan mengisi, bukannya saling mempertentangkan. Sejatinya pula, ada saatnya untuk berhenti sejenak dari segala keriuhan dan rutinitas, untuk menjernihkan diri, memandang perjalanan hidup dari sudut pandang yang berbeda, mengambil makna, dan menyusun tujuan yang baru. 

Itu tadi saya, bagaimana dengan Anda?
































Tuesday, May 1, 2012

Fenomenologi - Psikometri

Sudah dua bulan ini saya berkutat dengan sesuatu bernama thesis...
Buat saya, ini moment spesial.

Bagaimana tidak, thesis saya kali ini ternyata sangaaaat psikometri.. (baru ngeh setelah konsul sama mahaguru psikometri dan statistik di kampus dan browsing kesana dan kesini)
Sementara saya mengklaim sebagai orang yg sangaaaaaat kualitatif...
Skripsi saya dulu menggunakan pendekatan fenomenologi yg sangat kualitatif... memang sengaja sih, karena waktu kuliah dulu saya alergiii luar binasa sama yang namanya statistika dan psikometri. Gara-garanya sih karena ulah sendiri, mencap diri sebagai orang yg bodoh dalam hal-hal berbau matematis, karena waktu SMA dulu pernah dikatain sama guru matematika sebagai si bodoh matematika. Semakin kuat capnya karena nilai matematika, fisika, dan kimia saya selalu rebutan dapet 5 setiap semester..dan alhasil selalu ikut remedial setiap semester juga..hehehe Padahal belum tentu saya bodoh dan ga bisa matematika kan yaaa....


Setelah sekian tahun musuhan dengan angka dan hitung-hitungan... tepatnya 8 tahun, saya baru bisa berdamai setahun yang lalu, waktu seorang dosen di kampus bisa menerangkan dengan cara yg menurut saya mempesona.. ternyata angka dan hitung-hitungan itu ga serem-serem amat kok.. yang serem itu pikiran saya...hehehehe.... dan akhirnya, terdamparlah saya pada thesis kali ini. Sepertinya saya sedang diajar sesuatu... ga kenal maka tak sayang kan ya? klo saya ga nyemplung di  bagian ini, mana bisa saya sayang sama yang namanya statistika dan psikometri...

So, thesis ini sebuah sejarah baru dalam hidup saya...
bercinta dengan sesuatu yang bertahun-tahun saya benci dan hindari setengah mati...
kalau saya terus berlari dan menghindari, kapan saya bisa mencintai?
jadi... mari dihadapi... dan tuntaskan..
masih ada banyak waktu untuk belajar...
kalau bukan sekarang, kapan lagi?
saya percaya Tuhan akan menemani...

itulah hidup...


Sunday, March 18, 2012

Hujan di Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


(Sapardi Joko Damono - Kumpulan Sajak)

Saturday, March 3, 2012

Apa salahnya kalau saya pintar?

Jujur saja, akhir-akhir ini saya kehilangan "api" untuk menulis. Tidak tahu apa alasannya. Alhasil, sudah 1 bulan saya meninggalkan blog ini kosong, tanpa postingan baru. Padahal resolusi tahun 2012 ini adalah menulis minimal sekali dalam satu minggu. Sudah pasti resolusi saya gagal ya..hehehe...

Tapi hari ini lain, tiba-tiba "api" itu muncul kembali, dan sangat kuat. Saya tergelitik untuk menulis lagi setelah membaca berita di harian Kompas, Rabu 29 Februari 2012 tentang Wina Mayua (32) di Merauke, Papua, yang melahirkan anak keenamnya di sebuah "kandang hina" di halaman belakang rumah. Juga tulisan Kristi Poerwandari, lagi-lagi di Harian yang sama, Kompas, Minggu, 4 Maret 2012, tentang perempuan dan konstruksi Jender. Ya, dua tulisan itu punya akar yang sama, berbicara tentang perempuan dan kegelisahannya. Saya sendiri juga punya kegelisahan, dan inilah kegelisahan saya...

Usia saya sudah mendekati 30, dan masih melajang. Sejauh ini saya bahagia-bahagia saja tuh dengan status dan peran yang saya miliki, dan saya bersyukur karena saya didukung oleh keluarga yang menerima status kelajangan saya apa adanya. Ini patut disyukuri loh, karena banyak perempuan seusia saya menjadi stres, dan tak jarang putus asa,  karena dirongrong oleh keluarga untuk segera menikah. Kalaupun ada teman atau sesepuh yang bertanya "kapan menikah?" atau "kok ga punya pacar sih?" biasanya saya cengar-cengir saja...sambil berkata..mohon doa ya...hehehe... Oleh karena itu, tentu bukan mengenai status yang saya gelisahkan. Saya lebih gelisah dengan pendapat orang mengenai kenapa saya melajang. Beberapa teman bilang "habisnya, kamu terlalu pintar sih." Teman yang lain bilang "Kamu sih terlalu ambisius." Orang yang lain berkata "kamu sih S2, mana high achievement pula.", Begitulah alasan yang sering mampir di telinga saya, entah itu dari para lelaki atau bahkan para perempuan sendiri. 


Kalau sudah dibilang seperti itu, biasanya saya diam, tapi hati dan pikiran saya bicara banyak. Memang salah ya kalau saya pintar, saya berpendidikan master (hampir, mohon doa..hehehe), saya bertalenta, memiliki minat yang beragam, punya cita-cita yang tinggi dan punya sejuta energi untuk mewujudkannya? Apa ya saya harus jadi orang yang bodoh, pasif, dan tidak berpendidikan supaya saya punya pacar? Apakah hanya kaum laki-laki yang boleh punya kecerdasan tinggi, punya cita-cita, punya kemauan untuk mencapainya, aktif, dan proaktif? Tentu tidak bukan? 

Bukankah kecerdasan, talenta, dan kesempatan untuk berkembang itu adalah karunia Tuhan yang patut disyukuri, digunakan untuk kebaikan diri sendiri dan sesama,  sekaligus menjadi hak serta pilihan hidup manusia selama hidup di dunia? Kok logika dan hati saya berkata bahwa tidak adil menghakimi orang lain berdasarkan jenis kelamin, apa yang dia miliki dan menjadi ciri pribadinya. Apalagi ditengah jaman yang katanya menghargai emanispasi perempuan. Saya semakin sedih saat orang-orang yang berkomentar seperti itu adalah teman-teman saya, sesama perempuan, karena saya beranggapan bahwa komentar yang dilontarkan seseorang adalah cerminan dari apa yang dia pikir dan rasa mengenai dirinya sendiri. Kalau seorang perempuan masih saja mempersoalkan hal-hal seperti yang saya sebutkan tadi, berarti tentu ada sesuatu di dalam dirinya. Begitu juga untuk laki-laki. Tentu saja berlaku juga untuk saya. 

Bagaimanapun, bukankah kita, manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga, apapun yang diri kita miliki? Bukankah manusia diciptakan sama? Bukankah Tuhan menciptakan matahari untuk semua manusia yang ada di dunia ini. Marilah kita belajar menghargai... menghargai diri sendiri, dan menghargai orang-orang yang disekitar kita... tidak pandang  perempuan atau lelaki, tidak pandang menikah, duda, janda, atau lakang, tidak pandang kaya atau miskin, tidak pandang jawa, china, batak, papua, atau ras dan suku lainnyanya, tidak pandang terdidik atau tidak terdidik, dan tidang pandang apa agamnya, bahkan meskipun dia tidak beragama sekalipun. Cheers... 


Tuesday, February 7, 2012

Dia membuatku bisa merasa...

Dia membuatku bisa merasa,
apa yang mungkin jarang kudapatkan.
Sakitnya pengabaian
Sakitnya sendirian,
Sakitnya kesepian,
Sakitnya tertinggal,
Sakitnya berada di titik terbawah.


Dia membuatku bisa merasa, 
Apa yang mungkin jarang kuakui,
Uluran tangan dan hangatnya cinta teman.


Dia membuatku bisa merasa,
Apa yang mungkin jarang kusadari,
Bahwa dunia tak sempurna
Tak selamanya cinta dibalas dengan cinta,
Rindu dibalas dengan rindu
Kasih dibalas dengan kasih.
Namun yang terutama, tetaplah mencinta,
Meski berurai air mata dan perih di dada.


Dia membuatku bisa merasa,
Apa yang mungkin sering kusangkal,
Bahwa aku hanya manusia biasa
Itu saja, 
dan kesempurnaan itu milik-Nya...

Di sebuah ruang tenang,
menjelang tengah malam,
6 Februari 2012